Hasil Dari Mempraktekan Self Dislosure Theory
Komunikasi antar Pribadi
(Sebuah cerita dari hasil praktek self dislosure)
PANDEMI, MELI, DAN
ADAPTASI
(Ketika Meli di antara Pandemi dan Adaptasi)
By:
Dwi Aryani
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Hey! It’s me, Ani!
Hari
ini seharusnya aku sudah bersama penumpang pesawat lainnya sedang menuju kampung
tercinta, Minangkabau. Ya, mesin buatan manusia yang terinspirasi dari konsep burung
terbang itulah satu-satunya kendaraan tercepat untuk melintasi pulau agar
sampai ke rumahku. Tapi, semesta pun angkat bicara dan menentang keinginanku.
Seolah menampar dengan keras namun tak membekas. Semesta menahanku di kota
ramai nan sunyi ini. Aku tak bisa pulang. Bukan karena tidak adanya kendaraan,
tapi aku terjebak dalam ngerinya pandemi. Hingga membuatku sempat frustasi.
Tahun
2020 memang sangat mengguncang dunia. Dengan berbagai “Unjuk Kuasa” nya Tuhan,
manusia dibuat seperti kereta tanpa rel. Karena jalur yang ‘dianggap’ selalu
ada itu ternyata milik Tuhan. Semua rencana yang telah dibuat perlahan hancur
berantakan. Menyepelekan satu perkara membuat manusia lengah bahwa banyak
kemungkinan perkara besar akan berdatangan. Siapa yang menyangka tahun 2020
akan seperti ini?
Selama
dua puluh tahun hidupku, tahun inilah yang menjadi ujian kedewasaan
sesungguhnya bagiku. Bagaimana tidak, awal tahun saja sudah dibuka dengan
banjir yang terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia. Banjir yang terjadi
bukan sembarang banjir. Aku masih ingat sekali, tepat pada malam tahun baru
2020 awan mendung dan hujan turun deras. Tak ada perayaan meriah seperti tahun
kemarin.
Pagi
hari di tanggal 1 Januari 2020 disambut dengan berita banjir yang terjadi di
Jakarta. Banjir besar hingga menenggelamkan jalanan. Mobil-mobil mewah berenang
indah bersama banjir, Gedung-gedung tinggi membiarkan tubuhnya direndam banjir.
Tak banyak yang bisa dilakukan, orang-orang kantoran terpaksa bekerja dari
rumah karena kantornya terendam. Akses jalan dialihkan kemana-kemana. Aku
yakin, pemerintah sedang panik menenangkan rakyatnya.
Gedung-gedung
tinggi saja bisa terendam apalagi perkampungan dan perumahan di tepi perkotaan.
Layaknya basement mall, rumah mereka
benar-benar tenggelam oleh banjir. Semua orang sibuk menyelamatkan keluarganya,
dan menyelamatkan barang-barangnya. Sangat lucu sekaligus iba ketika melihat
berita mobil mewah BMW mengambang ria di tengah banjir. Sembari teriak-teriakkan
klaksonnya, ia terus melaju ke tempat di mana air berhenti membawanya.
Apa
yang bisa dilakukan oleh –katanya– pemilik mobil itu? Tidak ada. Karena itu pun
sesungguhnya bukan sedang rusak atau hilang. Hanya sedang ‘dipakai’ oleh
pemilik aslinya yaitu, Allah Subhanahu wa ta’ala. Benar, bukan? Banjir yang
menghanyutkan mobil mewah itu terjadi atas kehendak-Nya. Lalu apa yang bisa
dilakukan ‘peminjam’ selain duduk berdiam sembari memohon kepada-Nya agar diberi keihklasan dan ketabahan menghadapinya.
Serakah?
Tidak, itu hanya sikap berserah. Karena hal-hal yang terjadi sebelumnya baru
sedikit drama banjir yang terjadi di Jakarta. Maka dari itu penting untuk kita
kembali berserah dan selalu tawakal dengan semua rencana-rencana-Nya. Karena
jika kita menyerah, maka kita kalah. Lihat saja, banjir-banjir yang terjadi di
beberapa daerah lainnya di Indonesia. Sungguh menyedihkan dan mengiris hati,
banjir bandang yang terjadi tak hanya menghanyutkan rumah tapi juga membawa
sebagian manusia menjadi arwah. Tapi yang sebagian tersisa dari mereka tidak
menyerah dan sekedar berpasrah pada keadaan. Uluran tangan dari mana-mana
berdatangan, menandakan kemanusiaan bukan sekedar angan tapi suatu kenyataan.
Masyarakat saling bergandengan tangan membantu, menjaga, dan mendorong semangat
agar terus membara.
Dikala
itu aku berpikir bahwa kekacauan ini hanyalah permulaan dan pasti akan ada hal
baik yang terjadi setelahnya, tapi ternyata Allah juga memberikan ‘permulaan’
lainnya. Awalan yang juga sekaligus pelajaran. Hingga puncak dari kekacauan
yang terjadi di 2020 adalah munculnya pandemi corona. Pandemi yang benar-benar
memberikan banyak kesan ‘pertama kali’nya.
Pertama
kalinya aku belajar dari rumah bukan karena keinginan tapi paksaan keadaan.
Pertama kalinya bandara, tempat-tempat wisata, hingga rumah ibadah ditutup
dalam waktu yang lama. Pertama kalinya, dunia menghadapi perang tanpa senjata atau
bala tentara. Melawan sesuatu yang tak kasat mata bukanlah hal yang mudah.
Dokter umum, Ilmuwan, Professor, hingga ahli bedah dijadikan anak panah untuk
menjaga pertahanan dan memenangkan peperangan. Sebagai garda terdepan, tenaga
kesehatan perlu dibantu dan diberi apresiasi tertinggi.
Hari
ke hari, pasien positif corona yang meninggal memang semakin banyak berjatuhan.
Tapi bukan salah tenaga kesehatan apalagi si korban. Tak akan membaik keadaan
jika kita saling menyalahkan. Kesalahan–kesalahan seharusnya menjadi pelajaran,
bukan menjadi bahan ejekan, sumpahan, apalagi candaan.
Cukuplah
pandemi ini memberi kita banyak ‘pertama kali’, jangan biarkan ia memberi kita
kehancuran pada banyak persamaan. Karena aku pribadi tidak ingin itu terjadi.
Banyak ‘pertama kali’ yang ku alami, salah satunya adalah mengenal lebih dalam
sosok tangguh nan Anggun. Tangguh? Mengapa aku menyebutnya tangguh? Jawabannya
adalah karena ia wanita yang berani melawan arus. Di mana kebanyakan temannya
bersekolah ke arah timur seperti, Semarang atau Yogya, tapi, ia memilih
melanjutkan pendidikan ke arah barat yaitu Jakarta. Memang hal itu menjadikan
Meli di posisi minoritas, tapi ia tetap tangguh menjalankan segala kehidupannya
di Jakarta. Lalu, ‘Anggun’? Ya ‘Anggun’ adalah kata yang menggambarkan seorang
wanita. Wanita muda yang telah hampir dua tahun aku kenal, dan ternyata
menyimpan banyak hal menarik dalam dirinya.
“Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Meli Firdausi Nazila. Saya
berasal dari Brebes, Jawa Tengah.” Itu adalah kalimat pertama yang aku dengar dan
masih aku ingat saat pertama kali bertemu Meli. Melalui perkenalan umum di
ruang persegi berisi Mahasiswa dan Mahasiwi itulah aku melihatnya bicara dengan
penuh percaya diri. Meski aku melihat sedikit getaran di tubuh Meli saat
memperkenalkan diri, tapi, aku yakin getaran itu ada karena dia sedang berusaha
semaksimal mungkin mengendalikan rasa gugup yang menghampirinya. Sangat normal
jika orang memulai sesuatu diiringi dengan rasa gugup. Hanya bagaimana ia
mengendalikan rasa itu yang menjadikannya berhasil percaya diri atau tidak.
Meli
yang ku kenal pertama kali itu sosok yang sangat bisa mengendalikan rasa gugup
dan penuh percaya diri. Waktu berlalu hingga semut mulai membangun rumahnya,
aku perlahan mengenal Meli. Aku melihatnya dari kegiatan pembelajaran yang
berlangsung selama di kelas dan beberapa perbincangan yang terjadi di luar
kelas. Meli sosok yang pintar dan aktif. Keberadaannya di kelas membuat suasana
kelas menjadi aktif dan informatif. ‘Kelas mati’ bukanlah suasana kelas yang
akan terjadi jika ada Meli di dalamnya. Ia sangat kritis dengan berbagai
permasalahan. Being a critical thinking
is the most important thing in this era, isn’t it?
“Mahasiswa
harus kritis dengan keadaan”, itu kalimat yang aku sering dengar sebelum
memasuki bangku perkuliahan. Dan aku melihat kalimat itu ada pada diri Meli.
Melalui dirinya, secara tidak langsung aku sering belajar menjadi aktif,
kritis, dan dan berkepribadian positif. Hahaha bukan berarti aku orang jahat
ya, tapi belajar menjadi lebih positif dari orang yang positif adalah hal yang
positif, kan?
Baru
tiga bulan perkuliahan dimulai, Tuhan sudah membuat hidup baru juga untuk Meli.
Bukan perihal pernikahan atau kabar gembira lainnya. Melainkan kepergian
sesosok lelaki tangguh yang menjadi cinta pertamanya.
Laki-laki
yang dulu menyambut mesra dirinya saat hadir ke dunia. Membisikan dengan khusyu’ dan lembut kalimat iqomah
di telinga. Saat Meli bayi menangis kencang, ia mengetahui dirinya telah berada
di bumi. Ya, fakta itu membuat Meli harus menepati janji yang ia buat dengan
Allah dan disaksikan para malaikat sebelum ruh ditiupkan ke raganya. Janji tauhid,
menjadikan Allah satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa dan istiqomah di jalan-Nya.
Ya,
janji itu juga yang mengharuskan Meli tabah saat Sang Pemilik mengambil ayahnya.
Keteguhan yang datang setelah keretakan memang tak mudah dijalani. Kini, ia
harus menghadapi kenyataan bahwa Tuhan telah menghadapkan hidup baru untuknya, tanpa
ayah tercinta. Bagaimanapun ia harus
tetap menjalankan hidupnya. Ia harus bisa membuat sang ayah bangga di surga
sana. Meski kepergian ayahnya terjadi di awal perkuliahan, tepatnya saat UTS
(Ujian Tengah Semester) berlangsung. Tak membuat Meli patah semangat apalagi
berhenti kuliah. Tidak mungkin ia mengakhiri mimpinya dan menghancurkan semua
upaya yang telah dilakukan orangtuanya selama ini.
Ia
bangkit dari kesedihan dan kembali lari mengejar mimpinya. Tak
tanggung-tanggung, baru dua tahun ia menjalani perkuliahan, kakinya sudah
menginjak tanah beberapa negara tetangga. Dua kali ke Singapore dan Malaysia, serta
sekali ke Thailand. Pengalaman student
exchange sangat berharga baginya. Berharga untuk masa depannya juga. Aku
yakin, setiap orang yang telah mendapatkan kesempatan student exchange pasti memiliki special
ability sehingga membuatnya terpilih. Meli berkesempatan mengikuti kelas
internasional di Malaysia dan beberapa seminar internasional juga. Sungguh
pencapaian berarti bagi seseorang yang baru dua tahun duduk di bangku kuliah.
Meli
berhasil membuktikan bahwa kesuksesan tidak bergantung pada privilege yang dimiliki seseorang.
Selagi ia tawakal dan berusaha dengan maksimal, maka Man Jadda Wa Jadda. Beberapa orang berpikiran, “ah jelas saja dia
pintar dan cantik, ia memiliki fasilitas yang diberikan orangtuanya untuk
belajar tambahan dan merawat dirinya” pikiran seperti itulah yang seharusnya
dihapuskan dari otak anak-anak muda. Karena usaha tidak akan mengkhianati
hasil, dan hasil tidak bergantung pada privilege
yang dimiliki.
Aku
punya analogi yang menurutku cocok dengan kehidupan Meli atau beberapa orang bertakdir
sama. Yaitu, daun gugur bukan untuk mematikan dirinya sendiri, tapi untuk
membiarkan daun baru tumbuh dan memperindah kelanjutan hidup sang pohon. Begitu
juga dengan kehidupan yang terjadi pada Meli.
Aku
yakin Allah mengambil ayahnya pergi bukan sekedar untuk menyudahi kehidupan
sang ayah sebagai individu milik-Nya, tapi juga untuk membiarkan hal-hal baik
muncul dan memperindah kehidupan Meli beserta keluarganya. Oleh sebab itu Meli
selalu bersyukur atas semua pemberian Allah padanya. Mulai dari nikmat bisa menghirup
oksigen gratis hingga nikmat bisa menempuh pendidikan tinggi dengan baik itu
selalu ia syukuri dan manfaatkan dengan baik.
Tapi
dibalik semua kesuksesan yang telah dicapai Meli beberapa tahun terakhir, kini
ia harus menghadapi kenyataan bahwa rencana selanjutnya yang telah disusun
dengan baik untuk tahun 2020 hancur berantakan. Mulai dari short-term goals hingga long-term
goals semuanya berjalan di luar jalur. Meski begitu Meli tetap berusaha survive, karena diusia dua puluh tahun
ini Meli ingin ada hal–hal tercipta lebih dari usia sebelumnya. Sehingga dari
awal 2020 dia sudah mendongkrak diri untuk keluar dari zona nyaman. Dan ia
senang karena merasa berhasil mewujudkannya selangkah demi selangkah,
setidaknya ada keinginannya yang tercapai meski beberapa rencananya harus
ditunda. Bahkan tahun ini, ia dijadwalkan berangkat ke Singapore untuk student exchange, tapi hal itu harus dipostpone. Apalagi jika bukan karena
pandemi corona.
Menghadapi
kenyataan itu, ia cukup shock
sehingga membuatnya sulit beradaptasi. Karakternya yang well-planned memang sulit menerima kenyataan bahwa keadaan membuat
rencananya berantakan. Ia merasa salut pada teman-teman yang mudah beradaptasi
saat semua kegiatan dihentikan dan dialihkan ke rumah. Sedangkan ia masih
bingung dan harus berdiam cukup lama karena sulit beradaptasi dengan situasi
pandemi seperti ini. Banyak kegiatan-kegiatan online diadakan seperti seminar atau workshop online. Tapi
Meli tidak begitu tertarik dengan seminar–seminar online dan sejenisnya, karena
menurut Meli itu hal yang membosankan. Tak hanya Meli, mungkin banyak orang di
luar sana yang shock dengan keadaan
sekarang. Ekonominya mungkin terganggu, hobinya terganggu, rencana - rencana
hidupnya mungkin juga berantakan sama seperti Meli.
Tapi
Meli tau bahwa ia harus segera beradaptasi. Karena tak mungkin hanya diam
menunggu pandemi berakhir. Karena semua orang tidak tahu kapan virus ini akan
berhenti mewabah. Bahkan ahli-ahli di beberapa bidang juga meleset dalam
memprediksi akhir dari pandemi ini. Membuat banyak orang berharap sekaligus
menghancurkan harapan mereka. Bukan salah si ahli, melainkan salah kita yang
berharap pada ‘ketidakpastian’ sedang kita tidak mematuhi peraturan.
Bagaimana
mungkin pandemi akan berakhir hanya dengan perjuangan satu pihak. Seperti dalam
hubungan, jika hanya satu pihak yang berjuang maka hubungan itu tidak akan berhasil,
bukan? Bahkan salah satu pihak yang berjuang akan merasa lelah sehingga muncul
konflik di antaranya. Begitulah keadaan pandemi saat ini, jika hanya pemerintah
yang mati–matian menghentikan penyebaran virus, sedangkan masyarakatnya tidak
mendukung malah memperluas penyebarannya, lalu bagaimana pandemi akan berakhir?
Apakah
perjuangan seperti itu yang mampu menghentikan penyebaran virus corona? Wallahu ‘alam. Yang jelas, semua pihak
harus turut serta saling membantu melewati masa ini. We can through this together. Cause together we stand, divided we fall.
Prinsip itu juga yang mungkin dipakai Meli untuk bangkit dari kesulitannya
beradaptasi dengan keadaan. Ia harus berjuang sama seperti orang lain berjuang
dalam keadaan pandemi ini. Meli menyesuaikan diri dengan melakukan kebiasaan
yang sangat disukainya. Yaitu baca buku! Meski kesibukan sebelum pandemi
membuatnya jarang membaca buku, tapi kini ia memanfaatkan situasi dengan
sering–sering membaca buku. Karena Meli berpikir ini waktu yang tepat untuknya charge pikiran.
Meli
seperti berenang dalam lautan luas jika sudah bersama buku. Tak terhitung
berapa banyak buku yang sudah dibaca. Buku-buku itu menenggelamkannya dalam
dunia yang begitu indah. Memang, keberangkatan Meli ke Singapore tahun ini
harus dipostpone. Tapi dengan membaca
buku–buku itu ia merasa ikut terbang bersamanya. Beberapa judul buku yang telah
dibacanya seperti Peradaban Jepang, Love in London, Ensiklopedia Indonesia,
Best of Turkey, 99 cahaya di Langit Eropa, dan masih banyak lagi. Menjelajahi
dunia melalui buku merupakan salah satu hal yang tepat dilakukan saat pandemi
ini. Selain menyenangkan karena bisa berfantasi ria, membaca buku juga mampu
menambah wawasan dan pengetahuan.
Di
pedesaan yang sejuk, ia membalikkan lembar bukunya dibantu dengan angin yang
berhembus mesra. Terkadang si angin berhembus terlalu cepat sebelum Meli
menyelesaikan lembarannya, sehingga ia harus menahan persegi panjang tipis yang
berisi tulisan itu dengan kedua tangannya. Hahahah angin seperti ingin bermain
bersamanya.
Seperti
ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, bahwa tempat terbaik bagi
wanita adalah berada di dalam rumahnya sendiri. Meli pun tipikal wanita yang
sangat merasa nyaman di rumah, sehingga ia jarang keluar–keluar untuk bermain
jika sudah berada di rumahnya. Rasa nyaman itu ia sampaikan dengan penuh
kebahagiaan.
Meli
bahagia sekali memiliki rumah yang cukup strategis menurutnya. Rumah berwarna
hijau itu dilengkapi dengan kebun aneka ragam buah–buahan. Buah manggis, manga,
jambu, coklat, kelengkeng, bahkan kelapa ada di kebun belakang rumah Meli.
Sedangkan pohon mangga berdiri kokoh menjadi gerbang penyambut awal di depan
rumahnya. Lalu buah apa yang paling disukai Meli? Ia mengungkapkan bahwa
dirinya sangat menyukai buah naga karena bisa membuat perutnya terasa adem.
Sebelah kanan rumah Meli terdapat masjid, jadi lantunan ayat–ayat suci dari
masjid sangat terdengar jelas di rumah Meli.
Ya,
Meli sudah berada di halaman rumah tercintanya sedari awal pandemi muncul di
Jakarta. Akhir maret ia memutuskan untuk kembali ke Brebes menemani ibu dan
adiknya di rumah. Karena perkuliahan sudah dilakukan secara online jadi lebih baik ia lakukan di
rumah dari pada di ruang sempit 4x4 yang disebutnya dengan kos-kosan.
Meli
senang sistem belajar online saat ini,
karena dengan itu ia bisa berkumpul bersama keluarganya. Belum lagi saat ini
adiknya baru lulus SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan akan melanjutkan
Pendidikan ke pondok pesantren. Sehingga jika adiknya mondok, Meli bisa
menemani ibunya di rumah. Ia bisa membantu beberapa pekerjaan rumah seperti
menyapu, cuci piring, membereskan rumah dan kegiatan lainnya.
Namun
Meli mengakui ia belum memiliki gairah dalam hal masak–memasak sehingga ia
tidak bisa membantu ibunya di bidang tersebut. Selain karena tidak ingin
merusak cita rasa masakan, ia khawatir niatnya yang ingin membantu malah justru
merepotkan ibunya. Jadi ia memutuskan untuk membantu pekerjaan yang lain. Menurutku
juga gotong royong dalam keluarga bukan berarti harus melakukan 1 pekerjaan
bersama-sama, bukan? Tapi bisa dengan membagi beberapa pekerjaan untuk
diselesaikan bersama. Sehingga setiap anggota keluarga memiliki tugasnya
masing–masing sesuai kapasitas yang dimiliki.
Meli
menyadari dirinya sebagai perempuan yang nanti akan memiliki suami dan keluaga
sendiri. Tapi, tidak ahli memasak bukan berarti cacat sebagai seorang istri,
bukan? Masih banyak aspek lain yang menjadikan seorang wanita sempurna sebagai
individu juga sebagai istri atau ibu. Toh, dengan berjalannya waktu dan
banyaknya jam terbang yang dilalui, ia juga nanti akan pandai memasak seenak
masakan ibunya.
Kini
ia memanfaatkan peran sebagai anak dan pemudi dengan sangat baik, ia tekun
belajar dan mempeluas wawasan dengan kebiasaan membaca bukunya. Selain
relasinya yang luas, pemikiran dan wawasan wanita satu ini juga luas loh. Meli membaca
banyak buku selama hampir 4 bulan di rumah saja. Ia bisa menyelesaikan satu
buku dalam kurun waktu dua hari! Dua hari teman–teman! Bukan main si pecinta
buku ini. Ha? Kutu buku? Tidak, aku lebih suka menyebutnya pecinta buku. Karena
ia tak hanya hobi membaca dan menenggelamkan diri bersama buku–buku. Ia juga
pegiat buku, pecinta isi dan penulisnya. Menghargai dengan sangat baik terhadap
usaha penulis yang telah menyusun buku tersebut. Karena itulah aku lebih suka
menyebutnya pecinta buku. Cinta itu indah, bukan? Begitu juga dengan Meli
setiap bertemu buku–buku. Ia merasakan keindahan dan kenyamananya bersama
mereka.
Saat
marak terjadi penyebaran e-book (electronic book) ilegal, Meli sangat
merasa geram dan jelas batinnya menentang hal tersebut. Dengan mudahnya
orang–orang menyebarluaskan buku elektronik tanpa izin si penulis. Padahal
penulis dengan susah payah, memutar otak, bahkan mungkin bermandi keringat
untuk menyelesaikan bukunya. Tapi orang–orang jahat itu dengan enaknya
menyebarkan. Merasa pahlawan karena membagikan ilmu, tapi memperbanyak dosa
karena ‘mencuri’ dan membagikan hasil curiannya.
Menurut
Meli, keberkahan ilmu tidak akan didapatkan dengan cara seperti itu. Padahal
banyak aplikasi resmi untuk download
buku–buku elektronik yang legal. Seperti aplikasi milik Perpustakaan Nasional, yaitu
‘ipusnas’ dimana Meli kerap membaca buku dari situ. Dan tak jarang jua kuota internetnya habis karena download buku–buku yang ada di dalamnya.
Apalagi Meli lebih menyukai buku–buku elektronik dibanding buku – buku yang
ditulis cetak. Karena menurutnya lebih mudah diakses dan tidak memakan tempat.
Tak segan–segan, ia bahkan menghabiskan extra
kuota demi mendapatkan buku–buku online.
Meski begitu, Meli tidak sama sekali merasa keberatan, justru ia berterima
kasih karena hanya dengan kuota internet ia bisa dapat membaca dan mengunduh buku–buku yang ingin dibaca. Tapi Meli
tetap menyukai buku – buku yang ditulis cetak kok. Hanya saja ia merasa lebih
praktis dengan buku–buku elektronik. Dan dengan cara download legal tentunya ilmu yang akan didapat dari buku tersebut
menjadi berkah, insyaaAllah.
Mendukung
penulis buku dengan menghargai bukunya bisa menambah semangat para penulis
hebat lainnya untuk terus menulis, membantu memperluas wawasan orang melalui
tulisannya. Dari hal sederhana saja deh, bagaimana bisa kamu mulai belajar
membaca tanpa ada orang yang mulai menulis buku bacaanmu? Lalu mengapa kita
masih sulit menghargai? Semoga Allah membukakan pintu hati teman–teman (yang
belum bisa menghargai karya orang) agar senantiasa menghargai dan menghormati
setiap tetes usaha yang dilakukan oleh orang lain.
Buku
bisa menjadi salah satu sarana memajukan pendidikan yang ada di Indonesia.
Budaya literasi masyarakat Indonesia masih sangat minim. Meski dikenal kaya
akan adat dan budaya, tapi dibanding dengan negara–negara maju lainnya,
Indonesia masih jauh tertinggal dalam hal budaya literasi ini. Dengan hobi
membaca buku yang ada pada diri Meli tak mengherankan jika ia tertarik pada
dunia Pendidikan saat ini.
Meli
berada di lingkungan dimana Pendidikan tinggi masih belum merata di daerahnya.
Kebanyakan anak muda di sekitarnya hanya sebatas lulusan SMA (Sekolah Menengah
Atas) sederajat. Sudah syukur karena itu sudah melebihi Pendidikan orangtua
mereka yang kebanyakan lulusan SD (Sekolah Dasar). Meli sangat berharap desanya
bisa maju. Secara ekonomi maupun pendidikan. Ia berdo’a semoga anak–anak muda
yang sekarang hanya lulusan SMA, kelak ia bisa menyekolahkan anaknya hingga pendidikan
tinggi dan begitu terus selanjutnya.
Bagi
beberapa orang memang pendidikan itu masih berasa sebagai kebutuhan superior atau mewah. Karena Pendidikan
gratis yang diberikan pemerintah hanya sampai enam tahun, yaitu hingga SMP
(Sekolah Menengah Pertama) sederajat. Itupun dengan fasilitas yang sangat
terbatas. Jadi untuk melanjutkannya, menjadi pertimbangan yang cukup berat. Menimbang
biaya pendidikannya, dan kebutuhan selama Pendidikan. Seperti beli buku, beli
seragam, biaya tempat tinggal jika sekolahnya jauh dari rumah dan mengharuskan
untuk nge-kost, dan biaya–biaya lainnya.
Indonesia
masih terjebak dalam low-income country sehingga pertimbangan keuangan
sangat penting bagi beberapa keluarga yang tinggal di Indonesia. Itulah
sebabnya mengutamakan pendidikan belum menjadi prioritas pada sebagian
masyarakat. Sebagai anak muda yang cinta negara dan peduli akan pendidikannya,
Meli miris sebagian orang dewasa ketika tidak dengan ikhlas menjalankan profesi
mulianya sebagai guru PNS (Pegawai Negeri Sipil). Guru yang telah dibiayai oleh
pemerintah ini juga terkadang enggan dimutasi ke daerah–daerah terpencil. Padahal
daerah seperti itulah yang sangat membutuhkan sosok pendidik yang tulus
mengajari muridnya tanpa pandang bulu. Tapi untunglah masih banyak guru–guru
teladan yang rela dimutasi ke daerah–daerah terpencil dan mengajari muridnya
hingga sukses meski hanya berstatus guru honorer.
Sosok
pemimpi tumbuh dalam diri Meli. Ia memiliki sejuta mimpi dan miliaran energi
untuk mencapainya. Pribadi yang tangguh menjadikannya tak mudah layu Cita–cita
Meli saat ini begitu mulia. Kelak ia ingin mengabdi pada negara dengan menjadi seorang
Menteri Pendidikan (aamiin). Saat
impiannya tercapai, ia ingin menegaskan pengembangan pendidikan di daerah –
daerah terpencil dan juga tegas kepada pendidik yang akan ditugaskan di sana.
Agar para pendidik mendidik dengan sungguh–ungguh generasi penerus bangsa yang
berada jauh dari kemewahan kota itu.
Impian
mulia lainnya yang dimiliki Meli adalah mendirikan yayasan sekolah gratis bagi
anak–anak yatim piatu (aamiin). Ia
merasakan betul bagaimana kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Apalagi jika harus
kehilangan kedua orangtua. Ia tidak ingin anak–anak yang kehilangan kedua
orangtuanya itu menjadi patah semangat sehingga berhenti bermimpi apalagi
sampai putus sekolah. Ia sangat tidak menginginkan itu.
Dalam
dongeng, kancil tak melihat buaya sebagai penghalangnya dalam menyebrangi
sungai. Justru ia menjadikan buaya–buaya itu sebagai pijakannya untuk sampai
pada tujuan akhir. Begitu pula dengan Mel, ia sadar bahwa mimpi–mimpi yang dimilikinya
tidaklah mudah untuk digapai. Tapi karena mimpi–mimpi itulah yang menjadi
pendorong baginya untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar bisa sampai
pada tujuan yaitu membahagiakan diri dengan membahagiakan keluarga, orang lain
dan mengabdi pada negara.
Huft,
lelah bukan? Karena ternyata hidup sangat menantang dan menyimpan banyak
kejutan. Aku bersyukur bisa mengenal Meli, dan belajar banyak hal positif
darinya. Kini Meli mengaku sedang sibuk mempersiapkan video seleksi student exchange yang hanya tinggal
selangkah lagi. Agar tidak ada yang terbengkalai, ia ingin menyelesaikan semua
tugasnya di awal waktu karena ia sudah memiliki jadwal padat ke depannya
berkaitan dengan seleksi–seleksi yang sedang ia jalani.
Aku
bersyukur juga karena pandemi ini membawaku pada perbincangan bersama Meli
lewat mesin serba sentuh berbentuk persegi panjang yang dibekali dengan
internet. Aku senang bisa mengenal lebih dalam dengan Meli, yang menggerakanku
untuk menulis kisah tentang Meli sebelumnya.
Pandemi ini tak hanya mengancam kesehatan fisik seseorang. Tapi kesehatan mental (mental health) manusia juga sedang dipertaruhkan. Oleh karena itu orang–orang saling berlomba melawan their mental illness dengan berbagai cara. Ada yang menjadi sangat produktif namun ia menikmatinya, ada juga yang memanfaatkan waktu ini untuk healing dan vacuum sementara dari kesibukannya. Sedangkan aku dan Meli melakukan self disclosure sebagai salah satu langkah tepat untuk mengontrol mental health yang ada pada diri kita. Di waktu–waktu seperti ini penting untuk kita memiliki seseorang yang mendengarkan dengan baik, juga mengungkapkan dirinya dengan baik. Sehingga komunikasi yang dijalin tidak hanya sepihak dan informasi palsu belaka. Melainkan segala kebahagiaan hingga keluh kesah yang ada pada diri kita. Terima kasih sudah membaca tulisan ini. aku harap tulisanku bisa bermanfaat, dan kepribadian baik dalam diri Meli bisa menginspirasi teman–teman yang membacanya. Semangat untuk kita semua! We can through this pandemic successly. Because together we stand, divided we fall. Love you all!
Komentar
Posting Komentar